Memanggil Nama karena Cinta Kasih

pexels-nimitclix-31842961

Memanggil Nama karena Cinta Kasih

Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis
Lukas 1:57-66.80

Dalam injil Lukas menceritakan pemberian nama anak Zakharia dan Elisabet. Pertentangan dan perselisihan pendapat tentang pemberian nama terjadi antara Elisabet dan para tetangga sekitar. Para tetangga turut bersukacita dan hadir saat penyunatan bayi dan mereka hendak menamai bayi itu Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi Elisabet memberinya nama Yohanes dan Zakharia pun menulis pada batu Namanya adalah Yohanes. Para tetangga semuanya merasa heran. Seketika itu juga mulut Zakharia terbuka dan lidahnya terlepas lalu ia berbicara dan memuji Allah.


Pernah suatu Ketika seorang Abang penjual bakso dengan gerobaknya lewat di depan rumah seseorang yang hobi makan bakso. Bakso……bakso….beli 1 mangkok ya….teriaknya kepada Abang penjual bakso. Lalu Abang penjual bakso membawa baksonya. Apakah nama penjual bakso itu bakso? Tentu tidak. Apakah Si Pembeli bakso salah memanggilnya? Tentu tidak juga, itu sudah menjadi hal yang lumrah. Ditinjau dari etika, tentu bisa diperdebatkan. Bakso itu nama jenis makanan tentu tidak sama dengan abang yang menjualnya adalah manusia. Bakso tidak sama dengan manusia. Yang lebih dihargai seharusnya manusianya. Maka sepantasnya dipanggil dengan sebutan Abang atau Mas.


Nama Yohanes dalam injil Lukas berarti “Tuhan telah bermurah hati atau Tuhan itu baik”. Para tetangga Zakharia dan Elisabet memberi nama kepada bayi mereka berdua hanya karena kebiasaan, tetapi Zakharia dan Elisabet memberi nama atas dasar makna sebuah nama. Mereka memaknai nama Yohanes sebagai karunia kebaikan Allah yang bermurah hati kepada mereka. Dengan menamai dan meanggil anaknya setiap hari “Yohanes” mereka selalu menyadari kehadiran dan kemurahan Tuhan, mereka dekat dengan Tuhan, mengasihi dan mencintai Tuhan.


Setiap orang tua memberi nama pada anak-anaknya pasti mempunyai makna yang tersirat di dalamnya, maka sebuah nama bagi seseorang bukan tanpa makna. Seseorang yang disebut/dipanggil menurut nama yang sebenarnya pasti merasa dicintai dan dihargai martabatnya. 


Sahabat Vinsensius yang terkasih, sebagai seorang pelayan, cinta kasih kepada sesama hendaknya  menyapa saudara/saudari kita yang miskin, terpinggirkan dengan sebutan yang pantas dan sebaiknya menyebut namanya dengan benar, bukan dengan sebutan-sebutan yang melecehkan, karena dengan sebutan-sebutan yang melecehkan akan merendahkan martabatnya. Dengan menyebut/memanggil seseorang dengan benar menandakan kita turut mencintai, mengasihi keluarganya dan terutama kepada Allah yang menciptakannya. Dengan menghargai nama seseorang juga berarti kita memberi rasa hormat pada diri kita sendiri. Semoga Tuhan memberkati kita.

Category: