
Dipanggil untuk Mewartakan Kerajaan Allah
Peringatan Beata Emelia Tavernier
Gamelin, S.P., Orang Kudus Vinsensian
Lukas 9:1-6
Para saudara-ku terkasih,
Ketika Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, Ia tidak hanya memberi mereka kuasa untuk menyembuhkan penyakit dan mengusir roh jahat. Ia mengutus mereka untuk satu misi yang sangat penting, yakni: mewartakan Kerajaan Allah. Sebelum mereka melangkah, Yesus menyampaikan pesan yang mengejutkan mereka, yaitu mereka tidak boleh membawa bekal, tongkat, roti, uang, atau pakaian cadangan. Pesan ini bukan sekadar larangan praktis. Ini adalah ajakan untuk hidup dalam kepercayaan total kepada Allah dan untuk fokus sepenuhnya pada misi pewartaan. Yesus ingin para murid-Nya berjalan ringan, tanpa beban duniawi yang bisa mengalihkan perhatian dari tugas utama. Oleh karena itu, dalam panggilan itu, terkandung unsur penyerahan, keberanian, dan kesediaan untuk meninggalkan zona kenyamanan demi tujuan yang lebih besar.
Namun, penting untuk kita sadari bahwa seperti kedua belas murid, kita pun telah dipanggil untuk tugas perutusan yang sama. Kita semua, dalam konteks hidup masing-masing, diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah. Dan pewartaan itu tidak harus dilakukan dari mimbar ke mimbar. Pewartaan bisa hadir dalam bentuk yang sederhana namun sangat kuat: melalui cara hidup, cara bersikap, cara berperilaku, cara bertutur kata, dan cara bertindak yang baik dan benar yang mencerminkan bahwa kita adalah pribadi yang telah dipanggil oleh Yesus. Ketika kita hidup dengan kasih, kejujuran, kerendahan hati, dan pengampunan, maka sesungguhnya kita sedang mewartakan Kerajaan Allah. Juga ketika kita menjadi pribadi yang menghadirkan damai dan harapan di tengah dunia yang penuh kegelisahan, kita sedang menjalankan misi pewartaan itu. Maka, pesan Yesus kepada kedua belas murid-Nya bukan hanya untuk mereka, tetapi juga untuk kita semua yang telah menerima panggilan-Nya.
Bagi kita yang hidup dalam tarekat religius, tugas pewartaan ini juga terwujud dalam pelayanan dan karya yang dipercayakan oleh tarekat kita masing-masing. Entah itu dalam bidang pendidikan, kesehatan, pendampingan rohani, atau pelayanan sosial, semua adalah bentuk nyata dari pewartaan Kerajaan Allah. Jadi, misi tarekat kita masing-masing bukan sekadar pekerjaan atau karya kerasulan, tetapi perutusan yang lahir dari panggilan untuk menghadirkan kasih Allah di tengah dunia. Yang menguatkan dalam perjalanan ini adalah keyakinan bahwa kita tidak berjalan sendirian. Tuhan menyertai setiap langkah kita. Ia memberi kekuatan, hikmat, dan keberanian. Ia hadir dalam setiap tantangan, dan Ia bekerja melalui setiap usaha kecil yang kita lakukan dengan cinta dan kesetiaan.
Santo Vinsensius a Paulo adalah teladan nyata dari seseorang yang menjawab panggilan ini dengan sepenuh hati. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi menghadirkannya dalam pelayanan kepada orang miskin dan tersingkir. Hidupnya menjadi cermin dari Kerajaan Allah yang hadir di tengah dunia, bukan melalui kata-kata atau NARASI yang indah, menarik, tetapi melalui tindakan atau AKSI nyata yang penuh belas kasih. Oleh karena itu, semoga spirit santo Vinsensius a Paulo menjadi spirit yang menginspirasi kita.
Pertanyaan Reflektif
- Sudahkah aku mewartakan Kerajaan Allah melalui cara hidup dan sikapku sehari-hari, bukan hanya lewat kata-kata?
- Apa saja hal duniawi yang masih menghambatku untuk menjalankan tugas perutusan dengan bebas dan tulus?
- Bagaimana aku menghayati tugas yang dipercayakan oleh tarekatku sebagai bagian dari panggilan untuk mewartakan kasih Allah?