
Mengenal Yesus Lebih Intim
Hari Kamis Pekan Biasa XXV
Lukas 9:7-9
Para saudara-ku terkasih,
Herodes, seorang penguasa yang disegani, mendengar tentang Yesus. Ia tahu tentang mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya, tentang pengajaran-Nya yang mengguncang banyak hati, dan tentang pengaruh-Nya yang semakin meluas. Namun, yang menarik adalah respons Herodes: ia penasaran, bahkan gelisah, cemas, takut, tetapi tidak mengambil langkah untuk mengenal Yesus secara pribadi. Ia tahu tentang Yesus, tetapi tidak sungguh mengenal-Nya. Ia hanya berdiri di kejauhan, mengamati, bertanya-tanya, tanpa pernah membuka hatinya untuk sebuah perjumpaan yang sejati. Kita pun sering kali, berada dalam posisi yang sama seperti raja Herodes. Kita tahu tentang Yesus, kita membaca Alkitab, mendengar khotbah, mengikuti misa atau ibadah. Tetapi apakah kita sungguh mengenal Yesus? Apakah kita menjalin relasi spiritual yang hidup dan intim dengan-Nya? Mengenal Yesus bukanlah sekadar tahu siapa Dia, melainkan mengalami dan akrab dengan Dia. Itu adalah perjalanan hati yang melibatkan keheningan, doa yang jujur, tulus, merenungkan Firman-Nya, dan keterbukaan hati untuk dibentuk oleh-Nya. Relasi ini bukan rutinitas, melainkan perjumpaan yang mengubah atau mentransformatif.
Namun, relasi kita dengan Yesus tidak berhenti di ruang doa, kapel atau gereja. Ia harus menjelma dalam tindakan atau AKSI nyata. Mengenal Yesus secara intim menuntut kita untuk mencerminkan atau mewujudkan kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari: dalam cara kita memperlakukan orang lain, dalam kesediaan untuk mengampuni, dalam keberanian untuk hidup dalam kebenaran, dan dalam pelayanan yang tulus kepada mereka yang membutuhkan. Sebab seperti yang dikatakan dalam surat Yakobus, “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:17). Maka, iman yang sejati bukanlah yang hanya tinggal dalam hati, tetapi yang bergerak dan tergerak melalui tangan dan langkah kita. Oleh karena itu, mengenal Yesus secara intim dapat dilakukan dengan memberi waktu untuk doa pribadi yang jujur, merenungkan Firman Tuhan dengan hati terbuka, mengikuti dan menghadiri ekaristi dengan kesadaran penuh, dan melihat wajah-Nya dalam sesama, terutama mereka yang menderita dan terpinggirkan. Relasi yang intim dengan Yesus bukanlah tujuan akhir, tetapi sumber kekuatan untuk hidup dalam kasih dan kebenaran. Dan untuk mengenal-Nya lebih dalam, kita diundang untuk membuka hati, memberi waktu, dan membiarkan hidup kita dibentuk oleh kasih-Nya.
Santo Vinsensius a Paulo adalah contoh nyata dari iman yang hidup. Ia tidak hanya mengenal Yesus, tetapi menjadikan hidupnya sebagai cermin kasih Kristus. Ia hadir bagi yang miskin, yang terlupakan, dan yang menderita, karena ia mengenal Yesus dalam wajah mereka. Ia tidak hanya percaya, tetapi bertindak. Ia tidak hanya berdoa, tetapi melayani. Ia tidak hanya tahu, tetapi mencintai. Maka, pertanyaannya bukan lagi “Apakah aku tahu tentang Yesus?” tetapi “Apakah aku hidup bersama-Nya?” Relasi yang intim dengan Yesus menuntut keterlibatan total: hati yang percaya, pikiran yang terbuka, dan tangan yang siap melayani. Di sanalah kita sungguh mengenal Dia, bukan sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai Tuhan yang hidup dan hadir dalam setiap langkah kita.
Pertanyaan Refleksi:
- Apakah aku sungguh mengenal Yesus, atau hanya tahu tentang-Nya?
- Dalam hal apa aku bisa lebih membuka hati untuk menjalin relasi yang intim dengan-Nya?
- Tindakan atau AKSI nyata apa yang bisa aku lakukan hari ini sebagai wujud imanku kepada Kristus?