
HILANG UNTUK MENEMUKAN
Hari Kamis Pekan Prapaskah I
Matius 7:7-12
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)
Ada ironi yang indah dalam Injil hari ini. Yesus berbicara tentang keharusan menderita, ditolak, dan dibunuh—sebuah pengakuan yang ganjil dari seorang Mesias. Namun justru di sanalah letak kebijaksanaan surgawi: kemuliaan sejati lahir dari kesediaan direndahkan. Ia mengajarkan bahwa menyangkal diri bukanlah kehilangan, melainkan cara menemukan hidup yang tak pernah mati.
Kata harus dalam sabda Yesus menggema bagaikan dentang lonceng di keheningan pagi. Ia tidak menawarkan tawar-menawar. Mengikut Dia berarti menyangkal diri—melepaskan cengkeraman tangan pada segala sesuatu yang dunia tawarkan: pujian, kuasa, dan kepastian palsu. Sebab apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri? Pertanyaan ini menusuk hingga ke sumsum.
Bagi Keluarga Vinsensian, panggilan ini bukan sekadar wacana, melainkan darah daging perutusan. Santo Vincentius a Paulo, pelindung kita, mengenal betul jalan ini. Ia meninggalkan kehangatan istana Perancis, menukar jubah kebangsawanan dengan kain kasar para miskin. Ia memikul salib setiap hari dengan mengunjungi budak di kapal, merawat tubuh bernanah di rumah sakit, dan menghibur jiwa-jiwa yang dilupakan dunia. Baginya, menyangkal diri berarti membiarkan hatinya dikosongkan dari ambisi pribadi, lalu dipenuhi dengan cinta yang melayani tanpa pamrih.
Di tengah hiruk-pikuk zaman sekarang, ketika segala sesuatu berteriak meminta kita mempertahankan hak dan keakuan, suara Injil mengajak kita berjalan melawan arus. Menyangkal diri berarti membuka tangan, bukan mengepalkannya. Memikul salib berarti bersedia direpotkan demi mereka yang terluka di pinggir jalan.
Santo Vincentius mengajarkan bahwa kita menemukan Allah bukan dengan mendaki tingginya doa, melainkan dengan membungkuk rendah membasuh kaki mereka yang menderita. Dalam pelayanan itulah kita justru menemukan diri kita yang sesungguhnya—bukan diri yang dibangun oleh dunia, melainkan diri yang diciptakan Allah untuk mengasihi.
Marilah kita berani kehilangan demi menemukan. Sebab hanya dengan mati bagi diri sendiri, kita bangkit dalam hidup yang sejati.