Hati yang Berdamai

pexels-tima-miroshnichenko-8327732

Hati yang Berdamai

Peringatan Bt. Fransiska Ana Cirer
Carbonell, S.C. dan Pendiri Suster-Suster Cinta Kasih
Santo Vinsensius A Paulo dari Mallorca
Matius 5:20-26

Salam KEVIN (Keluarga Vinsensian) di manapun Anda berada..

 

Injil hari ini 27 Februari 2026, Yesus menegaskan bahwa kebenaran kita harus melebihi ahli Taurat dan orang Farisi. Artinya, hidup beriman tidak cukup hanya terlihat baik, sopan, dan taat aturan. Tuhan tidak hanya melihat tindakan kita, tetapi juga hati kita. Sering kali kita merasa sudah “tidak berbuat salah” tidak menyakiti secara fisik, tidak melanggar hukum, tidak melakukan dosa besar. Namun Yesus masuk lebih dalam dan bertanya, Apakah ada marah yang disimpan? Apakah ada luka yang dibiarkan membeku? Apakah ada kata-kata yang merendahkan orang lain?

 

Kebenaran sejati bukan sekadar tidak membunuh, tetapi juga tidak membenci. Kemarahan sering tampak kecil, hanya perasaan tersinggung, kecewa, atau sakit hati. Tetapi jika dipelihara, ia menjadi api yang menghanguskan relasi. Yesus tidak ingin kita menjadi orang yang hanya benar secara hukum, tetapi juga bersih secara batin. Ia tahu bahwa hati yang tidak berdamai akan sulit mengalami damai Allah. Oleh sebab itu, mari kita bertanya pada diri kita: Berapa lama saya menyimpan rasa marah? Apakah saya lebih memilih gengsi daripada rekonsiliasi? Yesus berkata: “Jika engkau hendak mempersembahkan korban di altar dan teringat ada saudaramu yang sakit hati, tinggalkan persembahanmu dan pergilah berdamai terlebih dahulu.” Betapa radikalnya pesan ini. Ibadah tidak boleh menggantikan rekonsiliasi. Doa tidak boleh menjadi pelarian dari tanggung jawab kasih. Sebab Allah lebih berkenan pada hati yang berdamai daripada ritual yang sempurna.

 

Saudar/i KEVIN yang terkasih dalam Kristus..

Sering kita berkata: “Nanti saja… tunggu waktu yang tepat… biarlah waktu menyembuhkan.” Namun Yesus berkata: segeralah berdamai. Semakin lama luka dibiarkan, semakin keras hati menjadi. Semakin lama konflik dipelihara, semakin jauh relasi retak. Yesus mengajak kita pada momen istimewa ini, momen Retret Agung 40 hari ini, momen tobat, mari kita membuka seluruh diri di hadapan-Nya, menata kembali pikiran, tutur kata, hati, dan tindakan kepada jalan pertobatan agar kita tidak diserahkan ke dalam api yang menyala-nyala. Semoga Roh Kudus memampukan kita dalam perjuangan menuju pertobatan yang sejati.

Category: