Karya Allah Sering Kali Dimulai dari Sesuatu yang Tampak Kecil

Gemini_Generated_Image_qs0b90qs0b90qs0b

karya Allah sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak kecil

Hari Senin Pekan Biasa XVII
Matius 13:31-35

Dalam bacaan Matius 13:31–35, Yesus menyampaikan dua perumpamaan tentang Kerajaan Surga: biji sesawi dan ragi. Yesus berkata bahwa Kerajaan Surga itu seperti biji sesawi, benih yang paling kecil, tetapi ketika tumbuh, ia menjadi pohon yang besar sehingga burung-burung dapat bersarang di cabang-cabangnya. Kerajaan Surga juga diumpamakan seperti ragi yang dicampurkan ke dalam tepung hingga seluruh adonan mengembang.

 

Melalui kedua perumpamaan ini, Yesus mengajarkan bahwa karya Allah sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak kecil, sederhana, dan tidak mencolok. Di mata manusia, hal-hal besar sering dianggap lebih penting: jabatan, kekuasaan, kekayaan, atau pengaruh. Namun, Allah bekerja dengan cara yang berbeda. Ia memakai benih kecil dan sedikit ragi untuk menghadirkan perubahan yang besar. Kita mungkin merasa bahwa doa-doa singkat, tindakan kebaikan sederhana, perhatian kepada sesama, atau kesetiaan dalam tugas sehari-hari tidak berarti banyak. Kita bisa tergoda untuk berpikir bahwa usaha kita terlalu kecil untuk mengubah dunia.

 

Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa Kerajaan Allah bertumbuh melalui kesetiaan dalam hal-hal kecil. Satu kata penghiburan dapat menguatkan hati seseorang. Satu tindakan pengampunan dapat memulihkan relasi. Satu keputusan untuk hidup jujur dapat membawa perubahan bagi lingkungan sekitar.

 

Ajaran ini sejalan dengan pesan yang sering disampaikan oleh Pope Francis. Dalam anjuran apostolik Gaudete et Exsultate, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa kekudusan bukan hanya milik orang-orang luar biasa, melainkan panggilan bagi setiap orang dalam kehidupan sehari-hari: orang tua yang membesarkan anak-anak dengan penuh kasih, pekerja yang jujur, atau mereka yang tetap sabar di tengah kesulitan.

 

Paus Fransiskus juga sering berbicara tentang “budaya perjumpaan” (culture of encounter), yaitu kesediaan untuk membuka diri, mendengarkan, dan merangkul sesama, terutama mereka yang miskin, tersingkir, dan terlupakan. Perubahan besar dalam masyarakat tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari hati yang rela mengasihi. 

 

Perumpamaan biji sesawi dan ragi juga mengajarkan kesabaran. Pertumbuhan membutuhkan waktu. Kita tidak selalu langsung melihat hasil dari kebaikan yang kita lakukan. Namun, Allah terus bekerja di balik layar kehidupan kita. Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk tidak meremehkan hal-hal kecil. Mungkin kita tidak dapat mengubah seluruh dunia, tetapi kita dapat menjadi “ragi” di keluarga, tempat kerja, komunitas, dan lingkungan kita.

 

Marilah kita percaya bahwa ketika kita menyerahkan hal-hal kecil kepada Tuhan dengan iman dan kasih, Ia akan menumbuhkannya menjadi berkat yang besar bagi banyak orang. Benih kecil apa yang sedang Tuhan percayakan kepada saya saat ini? Tindakan kasih sederhana apa yang dapat saya lakukan hari ini? Apakah saya sabar menantikan karya Allah yang bertumbuh perlahan dalam hidup saya?

Category: