Di antara Keinginan dan Panggilan

Di antara keinginan dan panggilan

Peringatan St. Agustinus dari Canterbury
Markus 10:32-45

Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus Kristus menegaskan kepada para murid bahwa jalan yang Ia tempuh bukan jalan kemuliaan dunia, melainkan jalan penderitaan dan penyerahan diri. Namun di saat yang sama, dua murid Yesus: Yakobus dan Yohanes masih terjebak dalam cara berpikir manusiawi, mereka mencari tempat kehormatan dalam Kerajaan yang mereka bayangkan secara duniawi. Di sini kita melihat satu perbedaan yang tajam bahwa Yesus berbicara tentang salib, sementara murid-murid sering berpikir tentang posisi. Yesus berbicara tentang pengorbanan, sementara murid-murid masih memikirkan kemuliaan. Dan justru di situlah Injil hari ini menyentuh kehidupan kita. Karena kita pun tidak jauh berbeda. Kita mengikuti Tuhan, tetapi sering masih membawa banyak keinginan yaitu ingin dihargai, ingin diakui, ingin dianggap berhasil, bahkan dalam pelayanan pun kita bisa tanpa sadar mencari tempat dan perhatian. Inilah pergumulan dalam hidup manusia, di antara keinginan dan panggilan.


Keinginan tidak selalu buruk. Tetapi ketika keinginan tidak dimurnikan, ia dapat mengaburkan panggilan Tuhan dalam hidup kita. Kita akhirnya lebih sibuk mencari “tempat”, daripada menjalani “tugas kasih”. Yesus kemudian memberikan jawaban yang sangat tegas dan membalikkan logika dunia, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayan.” Di sini Yesus tidak hanya memberi nasihat, tetapi menunjukkan jalan hidup baru. Dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak diukur dari posisi, melainkan dari kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani. Lebih dari itu, Yesus sendiri menjadi teladan paling nyata. Ia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, dan memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Inilah puncak kasih yang tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri. Maka Injil hari ini mengundang kita untuk melakukan pertobatan; Setia melayani meski tidak selalu dihargai, tetap mengasihi meski tidak selalu dibalas, mau merendahkan hati dalam tugas-tugas kecil yang sering tidak terlihat, dan belajar menemukan sukacita bukan dalam pengakuan, tetapi dalam kesetiaan. Karena pada akhirnya, mengikuti Kristus berarti berani berjalan di jalan yang sama dengan-Nya, jalan pelayanan, jalan kerendahan hati, dan jalan penyerahan diri.

Category: