
Siap Memikul Salib, Menyangkal Diri Dan Mengikut Yesus
Peringatan Wajib St. Vinsensius a Paulo
Lukas 9:43b-45
Para saudara-ku terkasih, dalam Kristus Tuhan.
Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Vinsensius a Paulo, Imam. Dalam bacaan Injil hari ini, kita menemukan sebuah momen yang menggugah hati. Di tengah kekaguman orang banyak atas mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, Ia justru mengalihkan perhatian para murid-Nya kepada kenyataan yang jauh dari kemuliaan duniawi. Ia berkata, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Perkataan ini tidak mudah dipahami oleh para murid. Mereka tidak mengerti, bahkan segan untuk bertanya. Di saat semua mata tertuju pada keajaiban dan kekuatan-Nya, Yesus memilih untuk berbicara tentang penderitaan dan salib. Ini adalah pengingat bahwa menjadi murid Kristus bukanlah tentang mencari kehormatan atau zona kenyamanan, melainkan tentang kesiapan untuk ikut menderita bersama-Nya. Yesus tidak memanggil kita untuk hidup yang mudah, tetapi untuk hidup yang setia. Ia mengundang kita untuk memikul salib, menyangkal diri, dan mengikuti-Nya. Namun, memikul salib bukan hanya tentang menanggung penderitaan, tetapi tentang menjalani hidup dengan kasih dan pengorbanan, bahkan ketika tidak dihargai atau dipahami. Sedangkan menyangkal diri berarti melepaskan ego, ambisi pribadi, dan keinginan duniawi yang sering kali bertentangan dengan kehendak Allah. Ini adalah panggilan untuk hidup dalam kerendahan hati dan penyerahan diri yang total. Lalu, mengikut Yesus berarti meneladani hidup-Nya: mengasihi tanpa syarat, melayani tanpa pamrih, dan taat sampai akhir. Ini bukan sekadar mengikuti dari kejauhan, tetapi berjalan bersama-Nya dalam relasi yang intim dan penuh komitmen. Dalam kehidupan kita sehari-hari, memikul salib dan menyangkal diri bisa tampak dalam tindakan-tindakan sederhana namun bermakna, yakni ketika kita mengampuni orang yang telah menyakiti dan melukai hati serta perasaan kita, meski hati belum sepenuhnya pulih, kita sedang memikul salib. Juga ketika kita melayani orang miskin, sakit, dan tersingkir, meski kita sendiri sedang lelah, kita sedang menyangkal diri. Ketika kita menolak godaan untuk membalas, menyombongkan diri, atau mencari pujian, kita sedang berjalan di jalan Kristus. Dan akhirnya, ketika kita tetap setia dalam doa dan iman, meski hidup terasa gelap, desolasi, dan penuh pertanyaan, kita sedang mengikut -Nya dengan setia.
Santo Vinsensius a Paulo, yang kita peringati hari ini, dapat menjadi inspirasi bagi kita akan teladan seorang murid Kristus sejati. Ia tidak hanya mengajar tentang kasih, tetapi hidup dalam kasih yang aktif dan nyata. Ia pernah menulis, “Ulurkanlah rahmatmu kepada orang lain, sehingga tidak ada orang yang membutuhkan yang kamu jumpa tanpa pertolongan. Karena harapan apa yang ada bagi kita, jika Tuhan menarik rahmat-Nya dari kita?” Kata-kata ini bukan sekadar nasihat, melainkan cerminan dari hidupnya yang penuh pengorbanan. Santo Vinsensius a Paulo meninggalkan zona kenyamanan demi pelayanan kepada mereka yang paling miskin dan terlantar. Ia melihat wajah Yesus dalam diri orang-orang yang menderita, dan menjadikan hidupnya sebagai saluran rahmat Tuhan. Penghayatan Santo Vinsensius terhadap syarat menjadi murid Yesus tercermin dalam belas kasih yang aktif, pengorbanan pribadi, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Ia tidak hanya berbicara tentang salib, tetapi memikulnya dengan sukacita. Ia tidak hanya menyangkal diri, tetapi menyerahkan seluruh hidupnya kepada Kristus. Dan ia tidak hanya mengikuti Yesus, tetapi membawa banyak orang untuk mengenal kasih-Nya. Jadi, renungan ini mengajak kita untuk merenung lebih dalam: Apakah kita peka terhadap orang-orang di sekitar kita yang sedang memikul salib dan membutuhkan uluran kasih kita?Apakah kita sungguh siap menyangkal diri dan menyerahkan kehendak kita kepada Tuhan? Dan apakah kita sungguh mengikut Yesus, atau hanya memilih bagian yang nyaman dari iman kita? Semoga melalui teladan Yesus dan Santo Vinsensius a Paulo, kita semakin dikuatkan untuk menjadi murid Kristus yang sejati, yang rela memikul salib, menyangkal diri, dan mengikut-Nya dengan kasih dan kesetiaan.
Pertanyaan Refleksi:
- Dalam hal apa aku masih sulit menyangkal diri dan menyerahkan kehendakku kepada Tuhan?
- Siapa orang di sekitarku yang sedang memikul salib dan membutuhkan uluran kasihku hari ini?
- Apakah aku sungguh mengikuti Yesus, atau hanya memilih bagian yang nyaman dari iman?