Menyuarakan Kebenaran

Menyuarakan Kebenaran

Perayaan Wajib Wafatnya St. Yohanes Pembaptis
Markus 6:17-29

Memperjuangkan sebuah kebenaran itu tidaklah mudah. Ada begitu banyak orang , baik dalam organisasi, LSM, maupun kelompok tertentu yang mencoba menyuarakan kebenaran di tengah ketidakbenaran, penindasan, kriminalisasi, korupsi ataupun bentuk penindasan lainnya yang terjadi di tanah air kita. Namun apa yang terjadi, semua terasa sia-sia, dibungkam, dan bahkan nyawa pun taruhannya. Tapi apakah kebenaran itu akan selamanya dibungkam? Tentu tidak!

 

Apa yang di kisah dalam injil Markus: 6:17-29 menggambarkan situasi yang sama yang dialami oleh Yohanes Pembaptis. Yohanes menyuarakan sebuah kebenaran, meskipun nyawanya jadi taruhan. Ia tetap teguh dalam iman dan menyuarakan,  “tidak halal engkau mengambil istri saudaramu.” Teguran Yohanes ini tentu membuat hati Herodes tersakiti dan menaruh dendam kesumat kepadanya. Tidak ada ketakutan sedikitpun dalam diri Yohanes.  Kebenaran tetaplah kebenaran dan harus disuarakan terus walau apapun yang terjadi. Apa yang dialami oleh Yohanes pembaptis ini, mengajarkan kita bahwa kesetiaan pada kebenaran itu lebih penting daripada rasa aman.  Tidak ada kata kompromi demi terkenal atau dikenal banyak orang, dikagumi, dihormati dan dieluh-eluhkan jika kita memperjuangkan kebenaran itu.

 

Sikap yang ditunjukan oleh Yohanes pembaptisan masih sangat relevan dalam kehidupan kita zaman ini. Berani hidup jujur dan kesetiaan pada panggilan hidup kita memperjuangkan kebenaran dimana dimana terjadi ketidakbenaran adalah sebuah salib yang terus kita panggul. Kita tetap teguh hati untuk tetap menjadi saksi hidup yang terus memperjuangkan kebenaran, bukan hanya dalam kata-kata, tapi dalam perbuatan dan praktek nyata hidup kita. Kebenaran itu tidak akan pernah mati, tapi senantiasa hidup.

Category: