
Saat terang itu menyakitkan
PF S. Pius V, Paus
Yohanes 3:16-21
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini…”
Kita hidup di zaman di mana kasih jadi retoris, terang jadi dekoratif, dan Tuhan… jadi nama yang kita bawa saat nyaman, lalu kita sembunyikan saat gelap lebih menguntungkan. Tapi kasih yang disebut dalam Injil Yohanes hari ini bukan kasih yang ramah di permukaan. Ia bukan kasih manis yang bisa dipasang di dinding ruang tamu. Ia adalah kasih yang datang dengan luka. Kasih yang rela dikorbankan. Kasih yang mengulurkan tangan justru ketika manusia paling layak untuk ditinggalkan.
Kasih itu datang. Tapi dunia menolaknya.
Kita menolaknya.
Karena terang itu menyakitkan. Terang membongkar. Terang menelanjangi kita dari segala pretensi, dari topeng pelayanan, dari doa-doa yang sekadar hiasan bibir, dari hidup yang penuh ritual tapi hampa relasi.
Manusia, kata Yohanes, lebih menyukai kegelapan. Bukan karena mereka buta. Tapi karena mereka sadar: terang itu akan memaksa kita berubah. Dan perubahan itu menakutkan. Lebih mudah sembunyi di balik kesibukan rohani daripada benar-benar membiarkan Tuhan mengusik zona nyaman batin kita. Lebih gampang mengutip ayat daripada menjalani hidup yang jujur di hadapan Tuhan dan sesama.
Tetapi justru di situlah kedahsyatan kasih itu. Ia tahu kita akan menolak-Nya, tapi Ia tetap datang. Ia tahu kita lebih suka gelap, tapi Ia tetap menyodorkan terang. Ia tahu kita akan menyakiti-Nya, tapi Ia tetap memberi Diri-Nya. Pertanyaannya bukan lagi: “Apakah kita tahu tentang terang itu?”
Tapi: “Apa yang kita lakukan saat terang itu mengetuk dan menyakitkan mata kita yang terbiasa gelap?”