Dipanggil Menjadi Murid Misioner

Dipanggil menjadi murid misioner

Perayaan Wajib St. Ignatius dari Loyola
Matius 13:54-58

Dalam perikop Matius 13:54–58, Yesus kembali ke kota asal-Nya, Nazaret. Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya dan melihat karya-karya-Nya. Namun, kekaguman itu segera berubah menjadi penolakan. Mereka berkata, “Bukankah Ia ini anak tukang kayu?” Mereka mengenal keluarga Yesus, tetapi gagal mengenali identitas dan misi-Nya.

 

Kedekatan mereka dengan Yesus justru menjadi penghalang untuk percaya. Mereka terjebak dalam prasangka dan cara pandang yang sempit. Akibatnya, mereka tidak mampu menerima karya Allah yang hadir di tengah kehidupan sehari-hari. Perikop ini mengajak kita untuk bertanya: Apakah kita juga sering bersikap seperti orang Nazaret? Mungkin kita sudah terbiasa dengan doa, liturgi, dan kehidupan menggereja sehingga kehilangan rasa kagum akan kehadiran Tuhan. Kita dapat mengenal banyak hal tentang Yesus, tetapi belum tentu sungguh mengenal dan mengikuti-Nya.

 

Pesan ini sangat relevan dengan panggilan menjadi murid misioner (missionary disciples).  Melalui Evangelii Gaudium. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa setiap orang yang telah mengalami kasih Kristus dipanggil untuk menjadi pewarta Injil.

 

Menjadi murid misioner dimulai dari hati yang terbuka dan mampu melihat karya Allah dalam hal-hal yang sederhana. Evangelisasi bukan pertama-tama soal program besar atau kegiatan yang luar biasa, tetapi tentang kesediaan untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus dan membagikan sukacita Injil kepada sesama. “Rutinitas rohani” dapat membuat kita merasa sudah mengenal Tuhan, padahal hati kita tertutup terhadap kejutan-kejutan Roh Kudus. Seperti orang Nazaret, kita bisa gagal melihat bahwa Allah bekerja melalui orang-orang biasa, situasi sederhana, dan pengalaman sehari-hari.

Sebagai murid misioner, kita dipanggil untuk memiliki hati yang rendah hati dan mau belajar. Kita diajak untuk tidak menghakimi berdasarkan penampilan, status sosial, atau latar belakang seseorang. Allah sering memilih orang-orang sederhana untuk menjadi alat kasih dan damai-Nya. Seorang murid misioner tidak diukur dari seberapa banyak ia diterima, tetapi dari kesetiaannya untuk terus mewartakan Injil dengan kasih dan kerendahan hati, bahkan ketika menghadapi penolakan.

Hari ini, Yesus mengundang kita untuk membuka mata dan hati agar dapat mengenali kehadiran-Nya dalam keseharian: melalui keluarga, komunitas, orang miskin, mereka yang menderita, dan setiap kesempatan untuk berbuat baik.

Category: