Dipanggil oleh Belas Kasih

pexels-gustavo-fring-5888400

Dipanggil oleh Belas Kasih

Pekan Biasa XIII
Matius 9:9-13

Dalam Injil hari ini, kita menyaksikan perjumpaan yang sangat sederhana namun mengubah hidup: Yesus melihat seorang pemungut cukai bernama Matius, dan hanya dengan dua kata“Ikutlah Aku” hidup Matius berubah selamanya. Ia segera bangkit dan mengikuti Yesus, meninggalkan hidup lamanya. Pemungut cukai pada zaman itu dianggap pendosa besar dan pengkhianat bangsa. Namun Yesus tidak melihat Matius dari kacamata sosial atau dosa masa lalu. Ia melihat hati yang siap untuk diperbarui. Matius tidak ditanya dulu tentang masa lalunya, tidak diminta membuktikan dirinya layak. Ia hanya diminta satu hal: membuka diri dan mengikuti.


Peristiwa ini mengejutkan banyak orang, terutama kaum Farisi. Mereka tidak bisa menerima bahwa seorang guru seperti Yesus duduk makan bersama para pendosa. Tapi jawaban Yesus sangat jelas dan menyentuh:
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku menginginkan belas kasih, bukan kurban. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Yesus tidak datang untuk menyempurnakan yang sudah sempurna, tetapi untuk menyelamatkan yang rapuh. Ia mencari yang tersesat, merangkul yang ditolak, dan menyembuhkan yang luka. Pesan ini memberikan harapan besar bagi kita semua. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk belas kasih Allah. Tidak ada masa lalu yang terlalu gelap sehingga tidak bisa diterangi oleh cahaya-Nya.


Sering kali, kita terjebak dalam pandangan dunia menghakimi diri sendiri atau orang lain karena dosa masa lalu, posisi sosial, atau kelemahan pribadi. Namun Yesus mengajak kita untuk melihat dengan mata belas kasih. Seperti Matius, kita semua dipanggil, bukan karena kita sudah sempurna, tapi karena Tuhan percaya kita bisa diperbarui dalam kasih-Nya. Renungan ini juga menjadi undangan bagi kita untuk memiliki hati seperti Kristus: hati yang penuh belas kasih, yang tidak cepat menghakimi, yang mau duduk dan berjalan bersama mereka yang terluka. Dunia kita sangat haus akan kehadiran orang-orang yang membawa harapan, bukan penghakiman; yang memulihkan, bukan menghukum.

Category: