
Batu yang Dibuang
Menjadi Batu Penjuru
Hari Jumat Pekan Prapaskah II
Matius 21:33-43,45-46
Dalam Injil hari ini, Yesus Kristus menyampaikan perumpamaan tentang penggarap kebun anggur yang jahat. Mereka dipercaya mengelola kebun, tetapi justru menyalahgunakan kepercayaan itu. Bahkan ketika anak pemilik kebun datang, ia dibunuh. Yesus menutup perumpamaan itu dengan kalimat yang sangat kuat:
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.”
Saudari terkasih, Sering kali dalam hidup, kita seperti para penggarap itu. Tuhan sudah mempercayakan banyak hal kepada kita: hidup, keluarga, komunitas, pelayanan, bahkan kesempatan bertobat. Namun, apakah semua itu sungguh menghasilkan buah?
Prapaskah adalah masa untuk memeriksa diri:
- Apakah aku setia pada tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan?
- Apakah aku mudah menolak teguran?
- Apakah aku tanpa sadar “membuang” Tuhan dalam keputusan sehari-hari?
Yesus adalah Batu Penjuru. Dunia mungkin menolakNya, tetapi dalam rencana Allah, Dialah dasar keselamatan. Demikian pula dalam hidup kita: ketika kita merasa ditolak, tidak dihargai, atau tidak dianggap, justru di situlah Tuhan sedang membangun sesuatu yang besar.
Bagi kita yang hidup dalam semangat pelayanan, terutama mendampingi mereka yang kecil dan lemah, miskin dan terpinggirkan. Injil ini menjadi pengingat: jangan sampai kita memiliki hati keras seperti para penggarap. Pelayanan bukan soal memiliki, tetapi soal mengelola dengan setia apa yang Tuhan titipkan.
Pertanyaan Refleksi:
- Dalam hal apa aku kurang setia pada kepercayaan Tuhan?
- Adakah “batu” yang selama ini aku buang—padahal itu adalah kehendak Tuhan?
- Buah apa yang bisa aku hasilkan hari ini?