
Anak Manusia adalah
Tuhan atas hari Sabat
Hari Sabtu, Pekan Biasa XXII
Lukas 6:1-5
Injil hari ini mengisahkan tentang orang-orang Farisi yang menegur murid-murid Yesus yang memetik bulir gandum untuk dimakan pada hari Sabat. Mereka merasa bahwa kegiatan itu tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Tetapi Yesus justru mengingatkan mereka akan kisah Daud dan pengikutnya yang sedang kelaparan. Daud mengambil roti sajian dan memakannya bersama mereka, meskipun sebenarnya roti tersebut aturannya hanya boleh dimakan oleh imam. Daud tidaklah bersifat kaku dan melihat kebutuhan para pengikutnya. Kasih jauh lebih penting daripada aturan yang bersifat kaku.
Yesus kemudian menegaskan, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Hal ini dimaksudkan bahwa hukum Allah dimaksudkan untuk membawa kehidupan, bukan untuk menindas. Sabat adalah hari untuk memulihkan manusia, membebaskannya dari beban, dan mendekatkannya kepada Allah.
Seringkali tanpa sadar, kita juga bisa bersikap seperti Orang Farisi, terjebak pada rutinitas atau hal-hal yang bersifat rohani, mengikuti aturan tetapi melupakan kasih yang menjadi inti hukum Tuhan. Kita bisa disibukkan dengan aturan, tetapi mengabaikan kasih kepada Tuhan dan sesama. Tuhan Yesus lebih peduli pada hati yang mengasihi daripada sekedar kepatuhan pada aturan secara buta. Santo Vinsensius dalam praktik kasihnya juga mengatakan: ”Kewajiban Cinta Kasih jauh lebih penting daripada semua aturan.” (SV VI, 47, 26 Juli 1656) Bahkan ia berpesan: “Kalau ada suatu alasan untuk meninggalkan doa, maka alasan itu adalah untuk melayani orang miskin. Meninggalkan Tuhan untuk bertemu dengan Tuhan..” (SV, 30 Mei 1647) Bagaimana dengan kita? Apakah dalam setiap tindakan dan keputusan-keputusan kita senantiasa membawa kehidupan dan kebaikan bagi sesama?