Ketulusan di Hadapan Bapa

pexels-jan-van-der-wolf-11680885-18874315

KETULUSAN DI HADAPAN BAPA

Hari Rabu Abu
Matius 6:1-6,16-18

Dalam perikop ini, Yesus memberikan petunjuk tentang bagaimana menjalani hidup rohani yang benar melalui tiga pilar hidup kristiani: sedekah, doa, dan puasa. Namun, Yesus tidak berfokus pada teknik melakukannya, melainkan pada motivasi hati. Secara rinci sedekah, doa maupun puasa dilaksanakan dengan ketentuan:

  1. Jangan Pamer dalam Berbuat Baik
    Yesus mengingatkan agar kita tidak melakukan kewajiban agama supaya dilihat orang. Kata “upah” muncul berulang kali. Jika kita berbuat baik demi pujian, maka “pujian” itulah upah kita satu-satunya. Namun, jika kita melakukannya dalam tersembunyi, Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya. “Janganlah tangan kirimu tahu apa yang diperbuat tangan kananmu.”
  1. Doa: Hubungan Pribadi, Bukan Pertunjukan
    Berdoa bukan tentang kata-kata yang hebat atau penampilan yang saleh di depan umum. Yesus mengajak kita masuk ke “kamar dalam”.  Ini adalah simbol hati nurani kita ***tempat paling sunyi  ***di mana hanya ada kita dan Allah. Keheningan adalah bahasa ketulusan.
  1. Puasa: Sukacita dalam Pengorbanan
    Saat berpuasa, dunia mungkin mengharapkan wajah yang lesu sebagai bukti kesalehan. Namun, Yesus meminta kita untuk meminyaki kepala dan mencuci muka. Artinya, pengorbanan diri harus dibalut dengan sukacita. Puasa bukan tentang penderitaan yang dipamerkan, melainkan pembersihan diri untuk lebih dekat dengan-Nya.


Seringkali di era media sosial, kita tergoda untuk “memamerkan” kebaikan atau momen spiritual kita demi mendapatkan likes atau apresiasi. Anggota Vinsensian melakukannya untuk mengajak semua orang bisa melakukan kebaikan meski hanya dalam hal kecil. Tuhan tidak mencari “pertunjukan” agama, Ia mencari hati yang tulus. Mari kita belajar untuk tulus hati biarlah hanya Tuhan yang tahu kebaikan kita. Sebab, pengakuan dari Allah jauh lebih berharga daripada tepuk tangan dunia.

Category: