
PENGENDALIAN DIRI DENGAN BERPUASA
Hari Jumat Sesudah Rabu Abu
Matius 9:14-15
Sahabat Vinsensian yang terkasih dalam Kristus. Orang Farisi menanyakan kepada murid-murid Yohanes, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-Mu tidak puasa?”. Jawab Yesus, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki berduka cita selama mempelai itu bersama mereka?”
Saudara, pesta pernikahan itu selalu identik adanya jamuan yang mewah baik makanan maupun minuman dan lain-lainya. Tentu saja menjadikan halangan rintangan ataupun godaan secara umum bagi mereka yang sedang berpuasa. Maka sikap kita terhadap orang yang sedang menjalankan puasa hendaknya bersikap positif antara lain tidak makan-minum ditempat umum, kalau usaha makanan ya di tutup sebagian warungnya atau jangan pamer macam-macam yang membuat sesama tergoda yang membuat batalnya puasa mereka. Puasa adalah usaha pengendalian diri, pertobatan diri dari perbuatan daging menjadi perbuatan roh (tidak terikat dengan hal-hal keduniaan), dari kehidupan yang gelap menjadi hidup yang terang, dari perbuatan kedosaan menjadikan kesucian sehingga hubungan manusia dengan Tuhan yang terputus, tersambung lagi ataupun berdamai dengan Allah.
Saat ini gereja katolik memasuki masa retret Agung dalam pra paskah, masa di mana kita melakukan pertobatan baik melalui usaha meningkatkan pelayanan dalam menggereja maupun semangat berbagi kasih bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, berkunjung kepada saudara yang sakit baik fisik maupun psikis, seperti yang telah dilakukan Santo Vinsensius juga Frederik Ozanam yang muda. Demikian juga Yesus bersabda, “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. “
Terima kasih. Berkat Allah menyertai kita.